Sabtu, 25 Juni 2011

askep kep. gerontik dengan hipertensi

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar belakang
     Definisi sehat menurut WHO adalah suatu keadaan yang sempurna baik fisik, mental, dan sosial tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan.
Hipertensi didefinisikan oleh joint national committee sebagai tekanan yang lebih tinggi dari140/90 mmhg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya. 
     Menua secara fisiologis di tandai dengan semakin menghilangnya fungsi dari banyak organ tubuh, perubahan tubuh pada manusia terjadi sejalan dengan makin meningkatnya usia, perubahan ini terjadi sejak awal kehidupan hingga usia lanjut pada semua organ dan jaringan tubuh. Pada sistem kardiovaskuler juga terjadi perubahan baik perubahan struktural maupun fungsional jantung seperti menurunnya elastisitas dinding aorta, menebalnya katub jantung, menurunnya kemampuan jantung untuk memompa darah dan hilangnya elastisitas pembuluh darah. Perubahan-perubahan tersebut merupakan penyebab terjadinya hipertensi. Yang bila tidak mendapatkan penanganan khusus akan menjadi penyebab timbulnya stroke bahkan kematian.
     Menurut data statistik sekitar 17.5 juta orang meninggal karena penyakit kardiovaskuler pada tahun 2005, diantara 17.5 juta ini tercatat 7.6 juta karena penyakit jantung koroner dan 5.7 juta karena stroke dan hipertensi merupakan faktor resiko yang paling banyak menyebabkan kematian akibat penyakit kardiovaskuler (gojiindonesia.wordpress.com)
Hipertensi terus meningkat terutama pada golongan usia lanjut, Di Indonesia mencapai 17-21% penderita. Menurut data statistik di peroleh di Provinsi Sulawesi utara tercatat 36,6% - 47,7% lansia dengan hipertensi.
Data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Bolaang Mongondow yang menderita hipertensi pada lansia menunjukan pada tahun 2009 sebanyak 4.952 jiwa dan 3000 jiwa adalah penderita lansia. Sedangkan di wilayah puskesmas mopuya pada tahun 2009 terdapat lansia dengan hipertensi sebanyak 212 jiwa dari jumlah lansia keseluruhan 468 jiwa.
     Dengan melihat kenyataan yang terjadi dan bagaimana yang telah dijelaskan diatas, maka penulis termotifasi untuk menyusun karya tulis ilmiah yang berjudul “asuhan keperawatan gerontik pada Tn.w dengan hipertensi di desa Dondomon wilayah Puskesmas mopuya  Kecamatan Dumoga Utara Kabupaten Bolaang Mongondow”.







B.     Batasan masalah
     Dalam penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis membatasi masalah pada  penerapan asuhan keperawatan gerontik pada Tn.w dengan hipertensi di desa Dondoman wilayah Puskesmas Mopuya.

C. Tujuan penulisan
1. Tujuan umum
Untuk mendapatkan gambaran  pelaksanaan asuhan keperawatan pada lansia Tn.W dengan hipertensi di desa Dondomon wilayah Puskesmas Mopuya.
2. Tujuan khusus
Tujuan khusus penulisan karya tulis ini di harapkan penulis dapat:
a.    Melakukan pengkajian pada lansia Tn.W di desa Dondomon dengan hipertensi, di wilayah untuk mendapatkan data yang lengkap.
b. Menentukan diagnosa keperawatan pada lansia Tn.W di desa Dondomon dengan hipertensi.
c.  Merencanakan tindakan keperawatan pada lansia Tn. W di desa Dondomon dengan hipertensi.
  d. Melaksanakan implementasi keperawatan pada lansia Tn. W di desa  Dondomon dengan hipertensi.
e. Mengevaluasi hasil asuhan keperawatan pada lansia Tn. W di desa Dondomon dengan hipertensi.

f.  Mengetahui kesenjangan antara teori dan kasus.
g.  Untuk mengetahui faktor pendukung dan faktor penghambat.
 
D. Manfaat penelitian
1. Pendidikan
Sebagai referensi/literatur ilmiah bagi rekan – rekan mahasiswa.
2. Puskesmas
     Sebagai bahan masukan bagi puskesmas Mopuya untuk dapat di jadikan bahan pertimbangan dalam penyusunan program peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.
3. Pasien dan keluarga
     Dapat memperoleh pengetahuan dan kemampuan dalam megatasi masalah pada lansia dengan hipertensi
4. penulis
     Sebagai salah satu persyaratan dalam menyelesaikan pendidikan Diploma III di Akademi Keperawatan Totabuan Kotamobagu.

 E. Metode penulisan
     Dalam penulisan karya tulis Ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif dan teknik pengumpulan data sebagai berikut.
     Metode deskriptif adalah suatu metode penelitian yang di lakukan dengan tujuan utama untuk membuat gambaran tentang suatu keadaan secara obyektif. Septiadi, (2007). Metode itu sebagai berikut:


1.      Studi kasus
Dalam studi kasus ini, penulis melakukan pengumpulan data yang meliputi:
1.1  pengkajian data dengan cara wawancara dengan pasien dan keluarga, pemeriksaan fisik dan observasi;
1.2  penetapan diagnosa keperawatan;
1.3  intervensi;
1.4  implementasi; dan
1.5  evaluasi dari tindakan keperawatan.

2.      Studi Kepustakaan
Penulis menggunakan beberapa literatur yang ada kaitanya dengan penulisan karya tulis ilmiah ini.
3.      Diskusi
Penulis melakukan diskusi dan konsultasi dengan pembimbing karya tulis ilmiah, dosen, mahasiswa, dan petugas kesehaan di puskesmas mopuya

F. Sitematika penulisan
Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini di susun secara sistematis  yang terdiri dari 5 BAB yaitu:

BAB I   pendahuluan
Yang menguraikan tentang latar belakang masalah, batasan masalah,tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II  tinjauan teoritis
Bab ini menguraikan tentang konsep dasar hipertensi dan konsep dasar asuhan keperawatan gerontik.
BAB III tinjauan kasus
Yang menguraikan perihal:
Pengkajian kepada pasien, analisa data, diagnosa keperawatan, imp
lementasi dan evaluasi.
BAB IV pembahasan
Bab ini juga menguraikan tentang pembahasan yaitu kesenjangan antara teori dan praktek.
BAB V penutup
Bab ini terdiri atas kesimpulan dan saran


BAB II

TINJAUAN TEORISTIS

 

A.  Proses menua
     Menua adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan lahan - kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang diderita (nugroho, 2000).
Proses menua normalnya merupakan suatu proses yang ringan, ditandai dengan turunnya fungsi secara bertahap tetapi tidak ada penyakit sama sekali sehingga kesehatan tetap terjaga baik. Sebaliknya proses menua patologis ditandai dengan kemunduran fungsi organ sejalan dengan umur tetapi bukan akibat umur tua, melainkan akibat penyakit yang muncul pada umur tua.
Perubahan - perubahan fisik  yang terjadi pada lanjut usia:
1.   Sel
a.       Lebih sedikit jumlahnya, lebih besar ukurannya
b.      Berkurangnya jumlah cairan tubuh dan berkurangnya cairan intraseluler
2.   Sistem persarafan
a.       Berat otak menurun 10-20%, lambat dalam respon untuk bereaksi
b.    Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran mengecilnya saraf penciuman dan perasa.

3.   Sistem pendengaran
a.     Membran timpani menjadi atrofi
b.    Pendengaran bertambah menurun
4.   Sistem penglihatan
a.     Sfingter pupil timbul skelorosis dan hilangnya respon terhadap sinar
b.    Hilangnya daya akomodasi, menurunnya lapangan pandang
5.   Sistem kardiovaskular
a.       Elastisitas dinding aorta menurun
b.    Katup jantung menebal dan menjadi kaku
c.    Kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya
d.   Kehilangan elastisitas pembuluh darah
e.    TD meiningkat di akibatkan oleh meningkatnya resistensi dari pembuluh darah perifer.
6.   Sistem pengaturan temperatur tubuh
a.       Hipotermia di akibatkan oleh metabolism yang menurun
b.    Keterbatasan reflex menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak sehingga terjadi rendahnya aktifitas otot.

7.   Sistem respirasi
a.     Otot – otot pernapasan kehilangan kekuatan dan menjadi kaku
b.    O2 pada arteri pada arteri menurun menjadi 75 mmhg co2 pada arteri tidak berganti.
8.   Sistem gastrointestinal
a.     Rasa lapar menurun, enzim lambung menurun
b.    Peristaltik lemah dan biasanya timbul konstipasi
9.   Sistem reproduksi
a.       Pada perempuan menciutnya ovari dan uterus, atrofi payudara
b.    Pada laki laki testis masih dapat memproduksi spermatozoa meskipun adanya penurunan berangsur angsur.
10.  Sistem genitourinaria
a.       Ginjal: nefron mengecil dan menjadi atrofi, aliran darah ke ginjal menurun sampai 50%, berat jens urine menurun.
b.    Vesika urinaria: otot otot menjadi lemah, kapasitas menurun sampai 200 ml menyebabkan frekuensi buang air seni meningkat, vesika urinaria susah dikosongkan pada pria lansia sehingga meningkatnya retensi urin.
11.  Sistem endokrin
a.       Produksi dari hamper semua hormone menurun
b.    Menurunnya aktifitas tiroid
12.  Sistem integumen
a.       Kulit mengkerut dan keriput akibat kehilangan jaringan lemak
b.    Mekanisme proteksi kulit menurun, kelenjar keringat berkurang jumlah dan fungasinya
13.  Sistem musculoskeletal
a.     Tulang kehilangan cairan dan makin rapuh, kifosis
b.    Serabut serabut otot mengecil sehingga seseorang bergerak menjadi lamban, otot otot kram dan menjadi tremor.

B.  Konsep dasar penyakit hipertensi
1.      Definisi
      Hipertensi dapat didefinisikan sebagai tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmhg. Pada populasi lansia hipertensi didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmhg dan tekanan diastoliknya 90 mmhg (smeltzer).
Hipertensi pada usia lanjut di bedakan atas:
Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar ari 140 mmhg dan atau tekanan diastolik  sama atau lebih besar dari 90 mmhg hipertensi sistolik terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmhg dan tekanan diastoliknya lebih rendah dari 90 mmhg.
Klasifikasi hipertensi berdasarkan penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu:
a.       Hipertensi esensial (hipertensi esensial) yaitu hipertensi yang tidak diketahui penyebabnya.
b.      Hipertensi sekuder yaitu hipertensi yang disebabkan oleh penyakit lain.

2.      Etiologi
     Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya perubahan perubahan pada:
a.       elastisitas dinding aorta menurun.
b.     katup jantung menebal dan menjadi kaku.
c.          kemampuan jantung untuk memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung untuk memompa darah menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
                     Corwin (2000) menjelaskan bahwa hipertensi tergantung pada kecepatan denyut jantung, valume sekuncup dan Total Peripheral Resistance (TPR). Maka peningkatan salah satu dari ketiga variabel yang tidak dikompensasi dapat menyebabkan hipertensi. Peningkatan kecepatan denyut jantung dapat terjadi akibat rangsangan abnormal saraf atau hormon pada nodus SA. Peningkatan kecepatan denyut jantung yang berlangsung kronik sering menyertai keadaan hipertiroidisme. Namun, peningkatan kecepatan denyut jantung biasanya dikompensasi oleh penurunan volume sekuncup atau TPR, sehingga tidak meninbulkan hipertensi. Peningkatan volume sekuncup yang berlangsung lama dapat terjadi apabila terdapat peningkatan volume plasma yang berkepanjangan, akibat gangguan penanganan garam dan air oleh ginjal atau konsumsi garam yang berlebihan. Peningkatan pelepasan renin atau aldosteron maupun penurunan aliran darah ke ginjal dapat mengubah penanganan air dan garam oleh ginjal. Peningkatan volume plasma akan menyebabkan peningkatan volume diastolik akhir sehingga terjadi peningkatan volume sekuncup dan tekanan darah. Peningkata preload biasanya berkaitan dengan peningkatan tekanan sistolik.

3.      Patofisiologi
      Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah terletak dipusat vasomotor. Pada medulla diotak dari pusat vasomotor ini bermula saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis ke ganglia simpatis di thoraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor di hantarkan dalam bentuk inpuls yang bergerak kebawah melalui sistem  saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini neuron preganglion melepaskan asetolkolin, yang akan merangsang serabut saraf  pasca ganglion ke pembuluh darah.
Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokontriksi. Individu dengan hipertensi sangat sensitive terhadap norepinefrin, meskipun tidak di ketahui dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf  simpatis merangsang pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang. Mengakibatkan tambahan aktivitas vasokontriksi. Medula adrenal mensekresi epineprin yang menyebabkan vasokontirksi. korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respos vasokontriktor pembuluh darah. Vasokontriksi yang mengakibatkan penurunan ke arah ginjal, penyebabkan pelepasan renin – renin merangsang pembentukan angiotensin I yang kemudian di ubah menjadi angiotensin II, suatu vasokontriktor kuat, yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal menyebabkan peningkatan volume intravascular. Semua faktor ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
      Sebagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan struktural dan fungsional pada sistem pembuluh perifer bertanggung jawab pada perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut.
Perubahan tersebut meliputi aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan kemampuan distensi dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang di pompa oleh jantung mengakibatkan penurunan curah jantung dan peningkatan tekanan perifer.



4.      Tanda dan gejala
Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi:
a.       tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkaan tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa, hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan arteri tidak teratur.
b.      gejala yang lazim
Sering di katakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertansi meliputi nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala terlazim yang mengenai kebanyakan pasien.
Menurut rokhaeni (2001), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita hipertnsi yaitu: mengeluh sakit kepala, pusing, lemas, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis, dan kesadaran menurun


5.   Pemeriksaan penunjang
a.    Hemoglobin/hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel – sel terhadap volume cairan dan dapat mengindikasikan faktor – faktor resiko seperti hiperkoagulabilitas anemi.

b.   Glukosa
Hiperglikemia (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi). dapat di akibatkan oleh peningkatan katekolamin (meningkatkan hipertensi).
c.    Kalium serum
Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan hipertensi
d.   Kadar aldostero urin/serum
Untuk mengkaji aldosteronisme primer
e.  Urinalisa
Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau adanya  diabetes.
f.  Asam urat
Hiperuresemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi.
g.   Steroid urin
Kenaikan dapat mengidentifikasikan penyebab hipertensi seperti penyakit parenkim ginjal, batu ginjal/ureter
h.   Foto dada
Menunjukan obstruksi klasifikasi pada area katup pembesaran jantung.
i.     CT scan
Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
j.     EKG
Dapat menunjukan pembesaran jantung, pola regangan. Gangguan konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit jantung hipertensi.

6.      Penatalaksanaan
      Tujuan tiap program penanganan bagi setiap penanganan bagi setiap pasien adalah mencegah terjadinya morbilitas dan mortalitas penyerta dengan mencapai dan mempertahankan tekanan darah di bawah 140/90 mmhg. Efektifitas setiap program di tentukan oleh derajat hipertensi, komplikasi, biaya perawatan, dan kualitas hidup sehubungan dengan terapi.
Beberapa penelitian menunjukan bahwa pendekatan nonfarmakologis, termasuk penurunan berat badan, pembatasan alkohol, natrium dan tembakau, latihan dan relaksasi merupakan intervensi wajib yang harus dilakukan pada setiap terapi hipertensi. Apabila pendereta hipertensi ringan berada dalam resiko tinggi (pria, perokok) atau bila tekanan diastoliknya menetap diatas 85 atau 95 mmhg dan sistoliknya di atas 130 sampai 139 mmhg maka perlu di mulai terapi obat – obatan.
Dua kelompok obat tersedia dalam terapi pilihan pertama: diuretika dan penyekat beta. Apabila dengan hipertensi ringan sudah terkontrol selama setahun, terapi dapat di turunkan.

7.      Anatomi dan fisiologi jantung

     Jantung merupakan organ utama dalam sistem kardiovaskuler. Jantung dibentuk oleh organ-organ muscular, apex dan basis cordis, atrium kanan dan kiri serta ventrikel kanan dan kiri. Ukuran jantung kira-kira panjang 12 cm, lebar 8-9 cm seta tebal kira-kira 6 cm. Berat jantung sekitar 7-15 ons atau 200 sampai 425 gram dan sedikit lebih besar dari kepalan tangan. Setiap harinya jantung berdetak 100.000 kali dan dalam masa periode itu jantung memompa 2000 galon darah atau setara dengan 7.571 liter darah. Posisi jantung terletak diantar kedua paru dan berada ditengah tengah dada, bertumpu pada diaphragma thoracis dan berada kira-kira 5 cm diatas processus xiphoideus. Pada tepi kanan cranial berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa III dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Pada tepi kanan caudal berada pada tepi cranialis pars cartilaginis costa VI dextra, 1 cm dari tepi lateral sternum. Tepi kiri cranial jantung berada pada tepi caudal pars cartilaginis costa II sinistra di tepi lateral sternum, tepi kiri caudal berada pada ruang intercostalis 5, kira-kira 9 cm di kiri linea medioclavic.
Pulmonary Valve Fungsi utama jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh dimana pada saat memompa jantung otot-otot jantung (miokardium) yang bergerak. Selain itu otot jantung juga mempunyai kemampuan untuk menimmbulkan rangsangan listrik  Kedua  atrium  merupakan ruang  dengan dinding otot yang tipis karena rendahnya tekanan yang ditimbulkan oleh atrium. Sebaliknya ventrikel mempunyai dinding otot yang tebal terutama ventrikel kiri yang mempunyai lapisan tiga kali lebih tebal dari ventrikel kanan.
Aktifitas kontraksi jantung untuk memompa darah keseluruh tubuh selalu didahului oleh aktifitas listrik. Aktifitas listrik ini dimulai pada nodus sinoatrial (nodus SA) yang terletak pada celah antara vena cava suiperior dan atrium kanan. Pada nodus SA mengawali gelombang depolarisasi secara spontan sehingga menyebabkan timbulnya potensial aksi yang disebarkan melalui sel-sel otot atrium, nodus atrioventrikuler (nodus AV), berkas His, serabut Purkinje dan akhirnya ke seluruh otot ventrikel.
jantung
Gambar: anatomi jantung
Oleh karena itu jantung tidak pernah istirahat untuk berkontraksi demi memenuhi kebutuhan tubuh, maka jantung membutuhkan lebih banyak darah dibandingkan dengan organ lain. Aliran darah untuk jantung diperoleh dari arteri koroner kanan dan kiri. Kedua arteri koroner ini keluar dari aorta kira-kira ½ inchi diatas katup aorta dan berjalan dipermukaan pericardium. Lalu bercabang menjadi arteriol dan kapiler ke dalam dinding ventrikel. Sesudah terjadi pertukaran O2 dan CO2 di kapiler, aliran vena dari ventrikel dibawa melalui vena koroner dan langsung masuk ke atrium kanan dimana aliran darah vena dari seluruh tubuh akan bermuara.
     Sirkulasi darah ditubuh ada 2 yaitu sirkulasi paru dan sirkulasi sistemis. Sirkulasi paru mulai dari ventrikel kanan ke arteri pulmonalis, arteri besar dan kecil, kapiler lalu masuk ke paru, setelah dari paru keluar melalui vena kecil, vena pulmonalis dan akhirnya kembali ke atrium kiri. Sirkulasi ini mempunyai tekanan yang rendah kira-kira 15-20 mmhg pada arteri pulmonalis.
Sirkulasi sistemis dimulai dari ventrikel kiri ke aorta lalu arteri besar, arteri kecil, arteriole lalu ke seluruh tubuh lalu ke venule, vena kecil, vena besar, vena cava inferior, vena cava superior akhirnya kembali ke atrium kanan.
jantung
Gambar: anatomi jantung
Sirkulasi sistemik mempunyai fungsi khusus sebagai sumber tekanan yang tinggindan membawa oksigen ke jaringan yang membutuhkan. Pada kapiler terjadin pertukaran O2 dan CO2 dimana pada sirkulasi sistemis O2 keluar dan CO2 masuk dalam kapiler sedangkan pada sirkulasi paru O2 masuk dan CO2 keluar dari kapiler.

















C.       Konsep dasar asuhan keperawatan
pengkajian
1.   Aktifitas/istirahat
Gejala:  Kelemahan, letih, napas pendek, gaya hidup monoton.
Tanda:   Frekuensi jantung meningkat
Perubahan irama jantung
Takipnea

2.   Sirkulasi
Gejala:  Riwayat hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung koroner/katup  dan penyakit serebrovaskular.
Episode palpitasi, perspirasi.
Tanda:  Kenaikan TD (pengukuran serial dari kenaikan tekanan darah di perlukan untuk menegakkan diagnosis).
 Hipotensi postural (mungkin berhubungan dengan regimen obat).
 Nadi: denyutan jelas dari karotis, jugularis, radialis; perbedaan   denyut seperti: denyut femoral melambat sebagai kompensasi denyutan radialis atau brakialis ; denyut popliteal, tibialis posterior, pedalis tidak teraba atau lemah.
 Denyut apical: PMI kemungkinan bergeser dan atau sangat kuat.
Frekuensi/irama: takikardi, berbagai disritmia.
Bunyi jantung: terdengar S2 pada dasar; S3 (CHF dini); S4 (pengerasan ventrikel kiri/hipertrofi ventrikel kiri).
Murmur stenosis vulvural.
Desiran vaskuler terdengar di atas karotis, femoralis, atau epigastrium (stenosis arteri).
DVJ [distensi vena jugularis] (kongesti vena).
Ekstremitas: perubahan warna kulit, suhu dingin (vasokontriksiperifer); pengisian kapiler mungkin lambat/tertunda (vasokonteriksi).
Kulit pucat, sianosis, dan diaphoresis (kongesti, hipoksemia); kemerahan (feokromositoma).


3.      Integritas ego
Gejala:  Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, atau    marah kronik (dapat mengindikasikan kerusakan serebral).
Faktor – faktor stres multipel ( hubungan, keuangan,  yang berkaitan dengan  pekerjaan).
Tanda: Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinu perhatian, tangisan yang meledak.
Gerak tangan empati, otot muka tegang (khususnya sekitar mata), gerakan fisik cepat, pernapasan menghela, peningkatan pola bicara.
4.      Eliminasi
Gejala:  Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( seperti infeksi/obstruksi atau riwayat penyakit ginjal yang lalu).

5.      Makanan/cairan
Gejala:  Makanan yang di sukai, yang dapat mencakup makanan tinggi garam, tinggi lemak, tinggi kolesterol (seperti makanan yang di goreng, keju, telur,), gula – gula yang berwarna hitam; kandungan tinggi kalori.
Mual, muntah.
Perubahan berat badan akhir – akhir ini (meningkat/menurun).
Riwayat penggunaan diuretik.
Tanda:   Berat badan normal atau obesitas.
Adanya edema (mungkin umum dan tertentu); kongesti vena, DVJ; glikosuria (hampir 10% pasien hipertensi adalah diabetik).

6.      Neurosensori
Gejala:  keluhan pening/pusing.
Berdenyut, sakit kepala suboksipital (terjadi saat bangun dan menghilang secara spontan setelah beberapa jam).
Episode kebas dan atau kelemahan pada satu sisi tubuh.
Ganagguan penglihatan (diplopia, penglihatan kabur).
Episode epistaksis.
Tanda:  Status mental: perubahan keterjagaan orientasi, pola/isi bicara, afek, proses pikir, atau memori (ingatan).
Respons motorik: penurunan kekuatan genggaman tangan dan atau refleks tendon dalam.
Perubahan - perubahan retinal optik: dari sklerosis/penyempitan arteri ringan sampai berat dan perubahan sklerotik dengan edema atau papiledema, eksudat, dan hemoragi tergantung pada berat/lamanya hipertensi.

7.      Nyeri/ketidaknyamanan
Gejala:  Angina (penyakit arteri koroner/keterlibatan jantung).
Nyeri hilang timbul pada tungkai/klaudikasi (indikasi arteriosklerosis pada arteri ekstremitas bawah).
Sakit kepala oksipital berat seperti yang pernah terjadi sebelumnya.
Nyeri abdomen/massa (feokromositoma).

Pernapasan    (secara umum berhubungan dengan efek  kardiopulmonal tahap lanjut dari hipertensi menetap/berat).
Gejala:   Dispnea yang berkaitan dengan aktifitas/kerja.
Takipnea, ortopnea, dispnea noktural paroksismal.
Batuk dengan/tanpa pembentukan sputum.
Riwayat merokok.
Tanda:   Distres respirasi/penggunaan otot aksesori pernapasan.
Bunyi napas tambahan (krakles/mengi).
Sianosis.


8.      Keamanan
Gejala:  Gangguan koordinasi atau cara berjalan.
Episode parastesia unilateral transian.
Hipotensi postural.


9.      Pembelajaran/penyuluhan
Gejala: Faktor - faktor risiko keluarga: hipertensi, aterosklerosis, penyakit jantung, diabetes mellitus, penyakit serebrovaskuler/ginjal.
Faktor - faktor resiko etnik, seperti orang afrika - amerika, asia tenggara.
Penggunaan pil KB atau hormon lain;penggunan alkohol/obat.

Pertimbangan rencana pemulangan:
DRG menunjukan rerata lamanya di rawat: 4,2 hari.
Bantuan dengan pemantauan diri TD
Perubahan dalam terapi obat
Prioritas keperawatan
1.    Mempertahankan atau meningkatkan fungsi kardiovaskular
2.    Mencegah komplikasi
3.    Memberikan informasi tentang proses/prognosis dan program pengobatan
4.    Mendukung kontrol aktif pasien terhadap kondisi

Tujuan pemulangan
1.    TD dengan batas yang dapat diterima untuk individual
2.      Komplikasi kadiovaskuler dan siatemik dicegah/diminimalkan
3.      Proses/prognosis penyakit dan regimen terapi di pahami
4.      Perubahan yang diperlukan dalam hal gaya hidup/perilaku di lakukan


Diagnosa keperawatan: Curah jantung, penurunan, dan resiko tinggi                 terhadap
Faktor resiko meliputi:   Peningkatan afterload, vasokontriksi.
Iskemia miokardia
Hipertrofi/rigiditas [kekakuan] ventricular
Kemungkinan di buktikan oleh:  [tidak dapat di teapkan; adanya tanda - tanda dan gejala-gejala yang menetapkan diagnosa aktual]


Hasil yang di harapkan/kriteria Evaluasi pasien akan:
Berpartisipasi dalam aktifitas yang menurunkan TD/beban kerja jantung.
Mempertahankan TD dalam rentang individu yang dapat di terima.
Memperlihatkan irama dan frekuensi jantung stabil dalam rentan normal pasien

TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Pantau TD. Ukur pada kedua tangan/paha untuk evaluasi awal. Gunakan ukuran manset yang tepat dan teknik yang akurat.

Perbandingan dari tekanan memberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskuler
Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan ferifer.
Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin termati atau terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun, mencerminkan efek dari vasokontriksi (peningkatan SVR) dan kongesti vena
Auskultasi tonus jantung dan bunyi nafas
S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya hipertrofi atrium
(peningkatan volume/tekanan atrium). Perkambangan S3 menunjukan hipertrofi ventrikal dan kerusakan fungsi. Adanya krakles, mengi dapat mengidentifikasikan kongesti paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik
Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pegisian kapiler
Adanya pucat, dingi, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung

Catat edema umum/tertentu
Dapat mengindikasikan gagal jantung, kerusakan injal atau vaskuler
Berikan lingkungan tenang, nyaman, kurangi aktivitas/ keributan lingkungan. Batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal.
Membantu untuk menurunkan rangsang simpatis; meningkatkan relaksasi
Pertahankan pembatasan aktiifitas, seperti istirahat di tempat tidur/kursi; jadwal periode istirahat tampa gangguan; bantu pasien melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kebutuhan
Menurunkan stres dan ketegangan  yang mempengaruhi tekanan darah dan perjalanan penyakit hipertensi
Lakukan tindakan – tindakan yang nyaman seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi, aktifitas pengalihan.
Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stres, membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan TD
Pantau respon terhadap obat untuk mengontrol TD
Respon terhadap terapi obat ‘ stepped’ ( yang terdiri atas diuretic, inhibitor simpatis dan vasodilator ) tergantung pada individu dan efek sinergis obat. Karena efek samping tersebut, maka penting untuk menggunakan obat dalam jumlah paling sedikit dan dosis paling rendah
Kolaborasi
Memberikan obat – obat sesuai indikasi, contoh :
Diuretik tiazid, misalnya: klorotiazid (diuril); hidroklorotiazid (esidrix/hidro DIURIL); bendroflumentiazid (naturetin).
Tiazid mungkin digunakan sendiri atau di campur dengan obat lain unyuk menurunkanTD pada pasien dengan fungsi ginjal yang relatif normal. Diuretik ini memperkuat agen-agen anti hipertensif lain dengan membatasi retensi cairan
Diuretic loop, misalnya furosemid (lasix); asam etakrinic (edecrin); bumetanid (burmex)
Obat ini menghasilka dieresis kuat dengan menghabat resorpsi natrium dan klorida dan merupakan antihipertensif efektif, khususnya pada pasien yang resisten terhadap tiazid atau mengalami kerusakan ginjal.

Diuretic hemat kalium mis: spironolakton (aldoctone) ;triamterene (dyrenium); amilioride (midamor).
Dapat diberikan dalam kombinasi dengan diuretik tiazid untuk meminimalkan kehilangan kalium
Inhibitor simpatis mis: propanolol (inderal); metoprolol (lopressor); atenolol (tenormin); nadnol (corgarde); metildopa  (aldomet); reserpino (serpasil); klonidin (catapres).
Kerja khusus obat ini bervariasi,tetapi secara umum menurunkan TD,melalui efek kombinasi penurunan tahanan total perifer, menurunkan curah jantung  menghambat aktifitas simpatis, dan menekan pelepasan renin.
Vasodilator, mis: minoksibil (loniten); hidralazin (apresoline); bloker saluran kalsium, mis: nefedipin (procardia ); verapamil
(canal).
Mungkin di perlukan untuk mengobati hipertensi berat bila kombinasi diuretik dan inhibitor simpatis tidak berhasil mengontrol TD. vasodilatasi vaskuler jantung sehat dan meningkatkan aliran darah koroner keuntungan sekunder dari terapi vasodilator.
Agen - agen antiadrenergik: bloker prazosin (minipres); tetazonin ( hytrin).
Bekerja pada pembuluh darah untuk mempertahankan agar tidak konstriksi.
Bloker nuron adrenergik: guanadrel (hyloree); quanetidin (ismelin); reserpin (serpasil).
Menurunkan aktifitas konstriksi arteri dan vena pada ujung saraf simpatis.
Imhibitor adrenergik yang kerja secara sentral: klonidin; (catapres); guanabens (wytension); metildopa (aldomet).
Obat ini meningkatkan rangsang simpatis pusat vasomotor untuk menurunkan tahanan arteri perifer.
Vasodilator kerja langsung: hidralazin (apresoline); minoksidil; (loniten).
Merilekskan otot – otot polos vaskuler.
Vasodilator oral yang bekerja langsung : diazoksid (hyperstat); nitroprusid; (nipride, nitropress).
Obat – obat ini di berikan secara intravena untuk menangani kedaruratan hipertensi
Bloker ganglion, mis: guanetidin (ismelin); trimetapan (arfonad); ACE inhibitor, mis: kaptopril (capoten).
Penggunaan inhibitor simpatis tambahan mungkin di butuhkan (untuk efek kumulatifnya) bila tindakan lain gagal untuk mengontrol TD dan kerja sama pasien dengan regimen terapeutik telah di tetapkan.
Berikan pembatasan cairan dan diit natrium sesuai indikasi
Pembatasan ini dapat menangani retensi cairan dengan respons hipertensif, dengan demikian menurunkan beban kerja jantung.
Siapkan untuk pembedahan bila ada indikasi.
Bila hipertensi berhubungan dengan adanya feokromositoma, maka pengangkatan tunor akan memperbaiki kondisi.



Diagnosa keperawatan: Intoleran aktifitas
Mungkin berhubungan dengan:  Kelemahan umum
Ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen
Kemungkinan di buktikan oleh: Laporan verbal tentang keletihan atau kelemahan
Frekuensi jantung atau respons TD terhadap aktifitas abnormal
Rasa tidak nyaman saat bergarak atau dispnea
Perubahan - perubahan EKG mencerminkan iskemia; disritmia
Hasil yang di harapkan/kriteria evaluasi pasien akan :
berpartisipasi dalam aktifitas yang di inginkan
Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktifitas yang dapat di ukur .
Menunjukan penurunan dalam tanda - tanda intoleransi fisiologi.

TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Kaji respon pasien terhadap aktivitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20 kali per menit di atas frekuensi istirahat; peningkatan tekanan darah yang nyata selama /sesudah aktifitas (tekanan siatolik meningkat 40 mmhg atau tekanan diastolik meningkat 20 mmhg; dipsnea atau nyeri dada; keletihan atau kelemahan yang brlebihan; diaphoresis; pusing atau pingsan.

Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respons fisiologi terhadap stres aktifitas, dan bila ada merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktifitas.
Instruksikan pasien tentang teknik penghematan energi. mis: menggunakan kursi saat mandi, duduk sat menyisir rambut atau menyikat gigi, melakukan aktifitas secara perlahan.
Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi, juga membantu keseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
Berikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat di toleransi. Berikan bantuan sesuai kebutuhan.
Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba – tiba. Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong kemandirian dalam melakukan aktifitas.


Diagnosa keperawatan: Nyeri, [akut], sakit kepala
Mungkin berhubungan dengan: Peningkatan tekanan vascular serebral
Kemungkinan dibuktikan oleh: Melaporkan tentang nyeri berdenyut yang terletak  pada region suboksipital, terjadi pada saat bangun, dan hilang secara spontan setelah beberapa waktu berdiri.
Segan untuk menggerakkan kepala, menggaruk kepala menghindari sinar terang dan keributan, mengerutkan kening, mengenggam tangan.
Melaporkan kekakuan leher, pusing penglihatan kabur,mual,muntah.
Hasil yang di harapkan/ kriteri evaluasi pasien akan:
Melaporkan nyeri/ketidaknyamanan hilang/terkontrol. Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Mempertahankan tirah baring selama fase akut
Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala. Mis: kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher, tenang, redupkan lampu kamar, teknik relaksasi (panduan imajinasi,distraksi) dan aktifitas waktu senggang.
Tindakan yang yang menurunkan tekanan vascular serebral yang memperlambat/memblok respons simpatis efektif dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
Hilangkan/minimalkan aktifitas vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala. Mis: mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.
Aktivitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkn sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskular serebral.
Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan.
Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala. Pasien juga dapat mengalami episode hipotensi postural.
Berikan cairan, makanan lunak, perawatan mulut yang teratur bila terjadi perdarahan hidung atau kompres hidung telah di lakukan untuk menghentikan perdarahan
Meningkatkan kenyamanan umum. Kompres hidung dapat menganggu menelan atau membutuhkan napas dengan mulut, menimbulkan stagnasi sekresi oral dan mengeringkan membran mukosa.
Kolaborasi
Berikan sesuai indikasi; analgesik
Menurunkan/mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis.
Antiansietas. Mis; lorazepam, (ativan), diazepam (valium).
Dapat mengurangi ketegangan dan ketidaknyamanan yang diperberat oleh stres.


Diagnosa keperawatan: Nutrisi, perubahan, lebih dari kebutuhan tubuh
Mungkin berhubungan dengan: Masukan berlebihan sehubungan dengan kebutuhan metabolik.
Pola hidup monoton.
Keyakinan budaya.
Kemungkinan di buktikan oleh: BB 10% - 20% lebih dari ideal untuk tinggi dan bentuk tubuh
Lipatan kulit trisep lebih besar lebih besar dari 15 mm pada pria dan 25 mm pada wanita.
Di laporkan atau terobservasi disfungsi pola makan.
Hasil yang di harapkan/kriteria evaluasi pasien akan:
Mengidentifikasi hubungan antara hipertensi dan kegemukan.
Menunjukan perubahan pola makan (mis: pilihan makanan, kuantitas, dan sebagainya). mempertahankan berat badan yang diinginkan degan pemeliharaan ksehatan optimal.
Melakukan/mempertahankan program olah raga yang tepat secara individual

TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Kaji pemahaman pasien tentang hubungan langsung antara hipertensi dan kegemukan .

Kegemukan adalah risiko tambahan pada tekanan darah tinggi karena disproposi antara kapasitas aorta dan peningkatan curah jantung berkaitan dengan peningkatan massa tubuh.
Bicarakan pentingnya menurunkan masukan kalori dan batasi masukan lemak, garam, dan gula sesuai indikasi
Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya aterosklerosis dan kegemukan, yang merupakan predisposisi untuk hipertensi dan komplikasinya, mis: stroke, penyakit ginjal, gagal ginjal, kelebihan masukan garam memperbanyak volume cairan intravaskular dan dapat merusak ginjal. Yang lebih memperburuk hipertensi.
Tetapkan keinginan pasen menurunkan berat badan
Motivasi untuk penurunan berat badan adalah internal. Individu harus berkeinginan untuk menurunkan berat badan.bila tidak maka program sama sekali tidak berhasil.
Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diit.
Mengidentifikasi kekuatan /kelemahan dalam program diit terakhir. Membantu dalam menentukan kebutuhan individu untuk penyesuaian/penyuluhan.
Tatapkan rencana penurunan BB yang realistik dengan pasien, mis: penurunan BB 0,5 kg per minggu
Penurunan masukan kalori masukan kalori seseorang sebanyak 500 kalori per hari secara teori dapat menurunkan BB 0,5 kg/minggu. Penurunan BB yang lambat mengindikasikan kehilangan lemak melalui kerja otot dan umumnya dengan cara mngubah kebiasaan makan.
Dorong pasien untuk mempertahankan masukan makanan harian termasuk kapan dan dimana makan dilakukan dan lingkungan dan perasaan sekitar saat makanan dimakan.
Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang dimakan, dan kondisi emosi saat makan. Membantu untuk memfokuskan perhatian pada faktor mana pasien telah/dapat mengontrol perubahan.
Instruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging) dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk kalengan, jeroan).
Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting dalam mencegah perkembangan aterogenesis.
Kolaboratif
Rujuk ke ahli gizi sesuai indikasi

Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi kebutuhan diit individual.


Diagnosa keperawatan: Koping, individual, inefektif
Mungkin berhubungan dengan: Kritis situasional/maturasional
Perubahan hidup beragam.
Relaksasi tidak adekuat.
Sistem pendukung tidak adekuat.
Sedikit atau tak pernah olah raga.
Nutrisi buruk.
Harapan yang tidak terpenuhi.
Kerja berlebihan.
Persepsi tidak realistik.
Metode koping tidak efektif
Kemungkinan dibuktikan oleh: Menyatakan ketidakmampuan untuk mengatasi atau meminta bantuan.
Ketidakmampuan untuk memenuhi harapan peran /kebutuhan dasar atau pemecahan masalah.
Perilaku merusak terhadap diri sendiri, makan berlebihan, hilang nafsu makan, merokok/minuman berlebihan, cenderung melakukan penyalahgunaan alkohol.
Kelemahan/insomnia kronik, ketegagan otot, sering sakit kepala/leher, kekuatiran/gelisah/cemas/tegangan emosi kronik, depresi.
Hasil yang di harapkan/kriteria evaluasi pasien akan:
Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan konsekuensinya.
Menyatakan kesadaran kemampuan koping/kekuatan priadi.
Mengidentifikasi potensial situasi stres dan mengambil langkah untuk menghindari/mengubahnya.
Mendemonstrasikan penggunaan keterampilan /metode koping efektif.
TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku, mis: kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan berpartisipasi dalam rencana pengobatan.
Mekanisme adaptif perlu untuk mengubah pola hidup sesorang, mengatasi hipertensi kronik, dan mengintegrasikan terapi yang diharuskan kedalam kehidupan sehari hari.
Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan konsentrasi, peka rangsang, penurunan toleransi sakit kepala, ketidakmampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah.
Manifestasi mekanisme koping maladaptive mungkin merupakan indicator marah yang di tekan dan di ketahui telah menjadi penentu utama TD diastolik
Bantu pasien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan strategi untuk mengatasinya
Pengenalan terhadap stresor adalah langkah pertama dalam mengubah respon seseorang terhadap stresor
Libatkan pasien dalam perencanaan perawatan dan beri dorongan partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan.
Keterlibatan memberikan pasien perasaan control diri yang berkelanjutan, memperbaiki keterampilan koping, dan dapat meningkatkan kerja sama dalam regimen terapeutik.
Dorong pasien untuk mengevaluasi prioritas/tujuan hidup. Tanyakan pertanyaan seperti “apakah yang anda lakukan merupakan apa yang anda inginkan?”
Fokus perhatian pasien pada realitas situasi yang ada relative terhadap pandangan pasian tentang apa yang diinginkan.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan, ketimbang membatalkan tujuan diri/keluarga.
Perubahan yang perlu harus di prioritaskan secara realistic untuk menghindari rasa tidak menentu dan tidak berdaya.


Diagnosa keperawatan: Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar), mengenai kondisi, rencana pengobatan
Mungkin berhubungan dengan: Kurang pengetahuan/daya ingat.
Misinterprestasi informasi.
Keterbatasan kognitif.
Menyangkal diagnose.
Kemungkinan di buktikan oleh:
Menyatakan masalah.
Meminta informasi.
Menyatakan miskonsepsi.
Mengikuti instruksitidak akurat; inadekuat kinerja prosedur.
Perilaku tidak tepat atau eksagregasi, mis; bermusuhan, agitasi, apatis.
Hasil yang di harapkan/evaluasi criteria pasien akan:
Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan regimen pengobatan.
Mengidentifikasi efek samping obat dan kemungkinan komplikasi yang perlu di perhatikan.
Memperhatikan TD dalam parameter normal

TINDAKAN/INTERVENSI
RASIONAL
Mandiri
Kaji kesiapan dan  hambatan dalam belajar. Termasuk orang terdekat.
Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa kerena perasan sejahtera yang sudah lama di nikmati mempengaruhi minat pasien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan, dan prognosis. Bila pasien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan pengobatankontinu, maka perubahan perilaku tidak akan di pertahankan.
Tetapkan dan nyatakan batas TD normal. Jelaskan tentang hipertensi da efeknya pada jantung, pembuluh darah, ginjal, dan otak.
Memberikan dasar untuk pemahaman tentang peningkatan TD dan mengklarifikasi istilah medis yang sering di gunakan. Pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa  gejala adalah ini untuk memungkinkan pasien melanjutkan pengobatanmeskipun ketika merasa sehat.
Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah “terkontrol dengan baik” saat menggambarkan TD pasien dalam batas yang diinginkan.
Karena pengobatan untuk hipertensi adalah sepanjang kehidupan, maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan membantu pasien untuk memahami kebutuhab untuk melanjutkan pengobatan.
Bantu pasien dalam mengidentifikasi faktor – faktor risiko kardiovaskuler yang dapat di ubah. Mis: obbesitas, diit tinggi lemak jenuh, dan kolesterol, pola hidup monoton, merokok dan minuman alkohol (lebih dari 60cc/hari dengan teratur), pola hidup penuh stres.
Faktor – faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal.
Atasi masalah dengan pasien untuk mengidentifikasi cara di mana perubahan gaya hidup yang tepat dapat dibuat untuk mengurangi faktor – faktor di atas.
Faktor – faktor resiko dapat meningkatkan proses penyakit atau memperburuk gejala. Dengan mengubah pola perilaku yang “ biasa/memberikan rasa aman” dapat sangat menyusahkan. Dukungan petunjuk dan empati dapat meningkatkan keberhasilan pasien dalam menyelesaikan tugas ini.
Bahas pentingnya menghentikan merokok dan bantu pasien dalam membuat rencana untuk berhenti merokok.
Nikotin meningkatkan pelepasan katekolamin, mengakibatkan peningkatan frekuensi jantung, TD, dan vasokontroksi, mengurangi oksigenasi jaringan, dan meningkatkan beban kerja miokardium.
Beri penguatan pentingnya kerja sama dalam regimen pengobatan dan mempertahankan perjanjian tingkat lanjut.
Kurangnya kerja sama adalah alas an umum kegagalan terapi antihipertensif. Oleh karenanya evaluasi yang berkelanjutan untuk kepatuhan pasien adalah penting untuk keberhasilan pengobatan . terapi yang efektif menurunkan insiden strok, gagal jaunting, gngguan ginjal, dan kemungkinan miokard infark.
Instruksikan dan peragakan teknik pemantauan TD mandiri. Evaluasi pendengaran, ketajaman penglihatan dan ketajaman manual serta koordinasi pasien.
Dengan mengajarkan pasien atau orang terdekat untuk memantau TD adalah meyakinkan untuk pasien, karena hasilnya memberikan penguatan visual/positif akan usaha pasien.
Bantu pasien untuk mengembangkan jadwal yang sederhana, memudahkan untuk minum obat.
Dengan mengnidividualsisasikan jadwal pengobatan sehingga sesuai dengan kebiasaan/kebutuhan pribadi pasien dapat memudahkan kerja sama dengan regimen jangka panjang.
Jelaskan tentang obat yang di resepkan bersamaan dengan rasional, dosis, efek samping yang di perkirakan serta efek yang merugikan, dan idiosinkrasi.
Informasi yang adekuat dan penambahan bahwa efek samping, mis: perubahan suasana hati, peningkatan BB awal, mulut kering)adalah umum dan sering menghilang dengan berjalannya waktu dengan demikian meningkatkan kerja sama rencana pengobatan.
Diuretik: minum dosis harian (atau dosis lebih besar) pada pagi hari;
Penjadwalan yang meminimalkan berkemih pada malam hari.
Ukur dan catat BB sendiri pada jadwal
Indikator utama keefektifan terapi diuretik.
Hindari/batasi masukan alkohol
Kombonasi efek vasodilatasi alkohol dan efek penipisan volume dari diuretik sangat meningkatkan resiko hipotensi ortostatik
Beritahu dokter bila tak dapat mentoleransi makanan/cairan.
Dehidrasi dapat terjadi dengan cepat bila masukan kurang dan pasien terus minum diuretik
Antihipertensi: minum dosis yang di resepkan dengan teratur, hindari melalaikan dosis, mengubah atau melebihi dosis dan jangan menghentikan  tanpa memberitahu pemberi asuhan kesehatan, bangun dengan perlahan dari berbaring ke posisi berdiri, duduk untuk beberapa menit sebelum berdiri, tidur  dengan kepala agak di tinggikan.
Penghentian obat mendadak menyebabkan rebound hipertensi yang dapat mengarah pada komplikasi berat.
Ukur penurunan keparahan hipotensi ortostatik yang berhubungan dengan penggunaan vasodilator dan diuretik.
Sarankan untuk sering mengubah posisi, olah raga kaki saat berbaring.
Menurunkan bendungan vena perifer yang dapat di timbulkan oleh vasodilator dan duduk /berdiri terlalu lama
Rekomendasikan untuk menghindari air panas, ruang penguapan, dan penggunaan alkohol yang berlebihan.
Mencegah vasodolatasi yang tak perlu dengan bahaya efek samping yaitu pingsan dan hipotensi.
Anjurkan pasien untuk berkonsultasi dengan pemberi perawatan dengan sebelum menggunakan obat – obatan yang di resepkan atau tidak di resepkan.
Tindak kewaspadaan penting dalam pencegahan interaksi obat yang kemungkinan berbahaya. Setiap obay yang mengandung stimulan saraf simpatis dapat meningkatkan TD atau dapat melawan efek antihipertensif.
Instruksikan pasien tentang peningkatan makanan/cairan tinggi kalium, mis: jeruk, pisang, tomat, kentang, apricot, kurma, buah ara, kismis, Gatorade, sari buah jeruk, dan minuman yang mengandung tinggi kalsium, mis: susu rendah lemak, yogurt atau tambahan kalsium sesuai indikasi.
Diuretik dapat menurunkan kadar kalium. Penggantian diit lebih baik dari pada obat dan semua ini di perlukan untuk memperbaiki kekurangan. Beberapa penelitian menunjukan bahwa mengkonsumsi kalsium 400 – 2000 mg per hari dapat menurunkan TD sistolik dan diastolik. Memperbaiki mineral dapat juga mempengaruhi TD.
Riviu tanda - tanda/yang memerlukan pelaporan pada pemberi asuhan kesehatan, mis: sakit kepala yang terjadi saat bangun, peningkatan TD tiba - tiba dan terus menerus, nyeri dada/sesak nafas, frekuensi nadi meningkat/takteratur, peningkatan BB yang signifikan (1 kg/hr atau 2,5 kg/minggu) atau pembengkakan perifer/abdomen, gangguan penglihatan, sering perdarahan hidung tak terkontrol, depresi/emosi labil, pusing yang hebat atau episode pingsan, kelemahan/kram otot, mual/muntah, haus berlebihan, penurunan libido/impoten.
Deteksi dini terjadinya komplikasi, penurunan efektifitas atau reaksi yang merugikan dari regimen obat memungkinkan untuk intervensi.
Jelaskan rasional regimen diit yang di haruskan (biasanya diit rendah natrium, lemak jenuh, dan kolesterol).
Kelebihan lemak jenuh,kolesterol, natrium, alkohol, dan kalori telah didefinisikan sebagai risiko nutrisi dalam hipertensi.diit rendah lemak dan tinggi lemak poli tak jenuh menurunkan TD, kemungkinan melalui keseimbangan prostaglandin, pada orang – orang normotensif dan hipertensi.
Bantu pasien untuk mengidentifikasi sumber masukan natrium, mis: garam meja, makanan bergaram, daging dan keju olahan, saus, sup kaleng, sayuran, soda kue, baking powder MSG. tekankan pentingnya membaca label kandungan dan obat yang di jual bebas.
Diit rendah garam selama 2 tahun mungkin sudah mencukupi untuk mengontrol hipertensi sedang atau mengurangi jumlah obat yang di butuhkan.
Dorong pasien untuk menurunkan atau menghilangkan kafei , mis: kopi, the, cola, coklat.
Kafein adalah stimulan jantung dan dapat memberikan efek merugikan pada fungsi jantung.
Tekankan pentingnya perencanaan/penyelesaian periode istirahat harian.
Dengan menyelingi istirahat dan aktifitas akan meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktifitas.
Anjurkan pasien untuk memantau respon fisiologi sendiri terhadap aktifitas, mis: frekuensi nadi, sesak napas. Laporkan penurunan toleramsi terhadap aktifitas dan hentikan aktifitas yang menyebabkan nyeri dada sesk napas, pusing, keletihan berat, atau kelemahan


Keterlibatan pasien dalam memantau toleransi aktifitasnya sendiri penting untuk keamanan dan atau memodifikasi aktifitas kehidupan se hari hari.
Dorong pasien untuk membuat program olah raga sendiri seperti olah raga aerobik berenang,berjalan.yang pasien mampu lakukan. Tekankan pentingnya menghindari aktivitas isometrik.
Selain membantu menurunkan TD, aktifitas aerobik merupakan alat untuk menguatkan sistem kardiovaskuler. Latihan isometrik dapat meningkatkan  kadar katekolamin serum, akan lebih meningkatkan td.
Peragakan penerapan kompres es pada punggung leher dan tekanan pada sepertiga ujung hidung, dan anjurkan pasien menundukan kepala kedepan bila terjadi perdarahan hidung.
Kapiler nasal dapat rupture sebagai akibat dari tekanan vaskuler berlebihan. Dingin dan tekanan mengkonstriksikan kapiler, yang melambatkan perdarahan. Menundukan menurunkan jumlah darah yang tertelan.
Berikan informasi tentang sumber – sumber di masyarakat dan dukungan pasien dalam membuat perubahan pola hidup. Lakukan untuk rujukan bila da indikasi.
Sumber – sumber di masyarakat seperti yayasan jantung Indonesia “coronary club” , klinikn berhenti merokok, rehabilitasi alkohol, program penurunan BB, kelas penanganan stres, dan pelayanan konseling dapat membantu pasien dalam upaya mengawali dan mempertahankan perubahan pola hidup.







BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada BAB ini penulis akan membahas asuhan keperawatan pada gerontik dengan hipertensi yang terdiri dari 5 tahap yaitu: pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Asuhan keperawatan dilakukan selama 4 hari mulai dari tanggal 20 – 23 Agstus 2009.
A.    PENGKAJIAN
   Berdasarkan data di puskesmas Mopuya di dapatkan keterangan bahwa penyakit yang utama pada lansia adalah hiprtensi.
Pada tanggal 20 agustus 2009 penulis mendatangi Tn.W dalam rangka menerapkan asuhan keperawatan pada Tn.W dengan mesalah hipertensi.
Kemudian penulis menjelaskan maksud dan tujuan penulis yaitu ingin mendiskusikan dan membantu masalah – masalah  kesehatan yang di alami Tn.W
Dari hasil pengkajian di peroleh sebagai berikut :



1.      IDENTITAS LIEN
Nama                            : Tn. W
Umur                            : 70 tahun
Alamat rumah               : Dondomon Rt 5 Dusun 3
Pendidian terakhir        : SD
Jenis kaelamin               : laki – laki
Agama                          : Kristen
Status perkawinan        : Kawin
Tanggal pengkajian       : 20 Agustus 2009

2.      STATUS KESEHATAN SAAT INI
Klien mengeluh sakit kepala, nyeri di belakang leher, gatal - gatal pada bagian perut.
3.      RIWAYAT KESEHATAN
Hipertensi di derita klien sejak 2 tahun lalu, klien selalu mengalami nyeri kepala, nyeri di rasakan klien terus menerus, nyeri pada kepala menjalar sampai kebelakang leher, lama dan waktu nyeri tidak menentu.
4.      RIWAYAT KESEHATAN KELUARGA
Istri dan keluarga klien juga menderita hipertensi dan bahkan kakak kandung meninggal karena hipertensi


5.      TINJAUAN SISTEM
a.       Keadaan umum
Kesadaran               : Compos mentis
 Suhu badan            : 36,5
Nadi                        : 60x/menit
Tekanan darah        : 180/110 mmhg
Pernafasan              : 28x/menit
b.      Integumen
Kulit mengkerut, permukaan kulit kasar dan bersisik, akral dingin.
c.       Kepala
Bentuk bulat, alopecia (tidak ada), warna rambut beruban, tidak ada ketombe.
d.      Mata
Pandangan kabur, konjungtiva tidak anemi.
e.       Telinga
Fungsi pendengaran menghilang
f.       Mulut dan tenggorokan
Tidak ada sariawan, gigi tanggal 3 buah ( 2 gigi atas dan 1 gigi bawah ).
g.      Leher
Tidak ada kelainan, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada nyeri tekan.

h.      Payudara
Tidak ada kelainan
i.        Sistem pernafasan
Pasien menggunakan pernafasan dada, mengalami kesulitan bernafas saat melakukan aktifitas lebih.
j.        Sistem kardiovaskular
Meningkatnya tekanan darah 180/110 mmhg
k.      Sistem gastrointestinal
Adanya gigi pasien yang tanggal menyebabkan pengunyahan makanan tidak baik, nafsu makan baik.
l.        Sistem perkemihan
Pasien mengaku tidak ada masalah dalam BAK, pasien BAK 5-6x/menit
m.    Sistem reproduksi
Pasien mengaku tidak lagi melakukan hubungan seksual karena istri pasien sudah meninggal.
n.      Sistem muskuloskeletal
Kifosis, pergerakan lambat, tremor, dan kadang merasakan keram – keram pada otot.
o.      Sistem pernafasan
Daya ingat pasien berkurang, berkurangnya penglihatan, menghilangnya fungsi pendengaran.

p.      Sistem endokirin
Menurunnya aktifitas tiroid, menurunnya sekresi hormon kelamin

6.      POLA AKTIFITAS SEHARI - HARI
Kesehariannya klien bekerja sebagai petani, klien mengaku tidak suka berdiam di rumah, saat melakukan aktifitas klien mengaku cepat merasa lelah dan sesak nafas.

7.       PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL DAN SPIRITUAL
a.       Psikososial
Klien masih suka berteman dan berkumpul bersama teman dan keluarga klien, klien tidak suka menyediri.
b.      Emosional
Tidak ada masalah emosional (-).
c.       Spiritual
Klien mengaku beragam kristen, masih aktif mengikuti kegiatan ibadah bersama, dan beribadah ke gereja setiap hari minggu.





8.      PENGKAJIAN FUNGSIONAL
Klien termasuk dalam kategori:
A.    Klien mandiri dalam makan, BAK, dan BAB, menggunakan pakaian, pagi ke toilet, berpindah dan mandi.

9.      BARTHEL INDEKS
NO
KRITERIA
DENGAN BANTUAN
MANDIRI
KETERANGAN
1
Makan

10
Frekuensi: 3x sehari
Jenis: nasi, daging, ikan, sayur, dan buah.
2
Minum

10
Frekuensi: 8x sehari
Jumklah:1/2 liter/hari
3
Berpindah

15

4
Personal toilet (cuci muka, menyisir rambut, mengosok gigi)

10
Freuensi : 1x sehari
5
Keluar masuk toilet (mencuci pakaian, menyekah tubuh, menyiram)

10

6
Mandi

15
Freuensi: 1x sehari
7
Jalan di permukaan datar

5

8
Naik turun tangga

10

9
Mengernakan pakaian

10

10
BAB

10
Frekuensi: 1xsehari
Konsistensi: kadang keras adang lembek
11
BAK

10
Frekuensi: 6x sehari
Warna: kuning
12
Olah raga/latihan

10
Tidak pernah
13
Rekreasi

10
Tidak pernah

KETERANGAN:
Skor 130 = mandiri

10.  PENGKAJIAN STATUS MENTAL
BENAR
SALAH
NO
PERNYATAAN









1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tanggal berapa hari ini ?
Hari apa sekarang ?
Apa nama tempat ini ?
Di mana alamat anda ?
Berapa umur anda ?
Kapan anda lahir ?
Siapa presiden Indonesia sekarang ?
Siapa presiden Indonesia sebelumnya ?
Siapa nama ibu anda ?
Penguranga berturut – turut dari 20 – 3 dan seterusnya ?


SKOR TOTAL: 3
Interprestasi hasil
Salah 0 – 3 = fungsi intelektual utuh
11.  MINI MENTAL STATUS EXAM (MMSE)
NO.
ASPEK KOGNITIF
NILAI MAKSIMAL
NILAI KLIEN
KRITIRIA
1
Orientasi
5
3
Menyebutkan dengan benar
      Tahun
      Musim
      Tanggal
      Hari
      Bulan

Orientasi
5
5
      Negara Indonesia
      Propinsi
      Kota
      Kecamatan
      Desa

Registrasi
3
3
Menyebutkan objek
      Objek tensi
      Objek stestoskop
      Objek termometer

Perhatian dan kalkulasi
5
2
Minta klien untuk memulai dari angka 100 kurangi 7 samnpai 5x tingkat
      93
      86
      79
      72
      65

Mengingat
3
1
      Tensi
      Stetoskop
      Termometer

Bahasa
9
6
Tunjukan pada klien sebuah benda dan suruh menyebutkan
      Jam
      Pulpen
Minta klien mengulang kata “tak ada jika, dan, atau, tetapi”
    
Minta klien untuk megikuti perintah “ambil kertas, lipat 2, dan taruh di lantai”
      Ambil kertas
      Lipat 2
      Taruh di lantai
Berikan klien perintah
      “tutup mata anda”
Perintahkan klien untuk menulis satu kalimat dan menyalin gambar
     Tulis satu kalimat
      Menyalin gambar

TOTAL NILAI: 20
Interprestasi hasil
18-23 = gangguan kognitif sedang









GENOGRAM












                   
                         
                
                               
Keterangan
                       = laki - laki
                       = perempuan
       /               = meninggal
                 = klien
--------             = tinggal serumah
                       = garis keturunan

Generasi kedua dan pertama keatas tidak dapat di ketahui, klien dan keluarga mengaku sudah tidak ingat lagi. Orang tua klien keduanya sudah meninggal karena tua, bukan karena penyakit. Klien bersaudara 10 orang kakak klien meninggal karena hipertensi, istri klien juga meninggal karena hipertensi. Klien memiliki 6 orang anak, semua masih hidup dan sekarang ini klien tinngal bersama kedua anak dan cucu – cucunya.

ANALISA DATA
NO
DATA
ETIOLOGI
MASALAH KEPERAWATAN
1.
DS : -
DO : -    TD : 180/110 mmhg
-       Nadi : 60x/mnt
-       P : 28x/mnt
-       Udema pada ke dua kaki
Elastisitas pembuluh darah menghilang, katup jantung menebal dan menjadi kaku
Kemampuan jantung memompa darah menurun
Kontraksi jantung menurun
Volume darah keseluruh tubuh menurun
Penurunan curah jantung





Resiko terhadap penurunan curah jantung
2.
DS : - klien mengeluh sakit kepala dan sakit di belakang leher
DO  : -  klien terlihat segan untuk menggerakan kepala
-    Klien tamapak mengkerutkan kening
-    Skala nyeri
5.   Nyeri sedang
Resistensi pembuluh darah perifer meningkat
Tekenen darah meningkat
Tekanan vaskular meningkat
nyeri






Nyeri
3.
DS : klien mengatakan cepat lelah saat beraktifitas, dan sesak nafas
DO: - klien telihat lemah
-    Enggan untuk bergerak
Suplai darah kejantung menurun
Gangguan suplai darah keseluruh tubuh
Sel-sel darah dalam tubuh berkurang
Suplai O2 berkurang
Kelemahan
Intoleransi aktifitas






Intoleransi aktifitas
4.
DS : klien mengatakan gatal-gatal
DO: - kulit tampak bersisik dan kasar
-      Adanya lesi dan alergi pada perut bagian kanan
Ketidakmampuan memenuhi personal hygiene
Kurangnya perawatan diri




Kurangnya perawatan diri
5.
DS : klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya
DO : - klien bertanya dan meminta informasi tentang penyakitnya
-    Perilaku tidak tepat
-    Bekerja belebihan
-    Pola makan tidak sesuai
Perubahan status kesehatan
Koping tidak efektif
Kurangnya sumberinformasi mengenai penyakit
Kuramg pengetahuan





Kurang pengetahuan


B.     DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.      Resikko tinggi terhadap penurunan curah jantung
2.      Nyeri berhububgan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral
3.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output
4.      Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelainan fisik
5.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit
C.    PERENCANAAN
1.      Resiko tinggi terhadap penurunan curah jantung
Data subjektif: Klien mengaku cepat merasa lelah dan sesak nafas saat melakukan aktifitas
Data objektif:   DS :  -
DO : -TD       : 180/110 mmhg
- Nadi    : 60x/mnt
-  P         :  28x/mnt
-  Udema pada kedua kaki
Tujuan umum: Tidak terjadi penurunan curah jantung setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3 hari
Tujuan khusus: Mempertahankan TD dalam rentang yang dapat di terima, 120/90 - 140/mmhg.

Intervensi
1.      Pantau TD, ukur pada ke dua tangan, gunakan manset dan teknik yang tepat.
Rasional: Perbandingan dari tekanan memeberikan gambaran yang lebih lengkap tentang keterlibatan/bidang masalah vaskular.
2.      Catat keberadaan, kualitas denyutan dan perifer
Rasional: Denyutan karotis, jugularis, radialis, dan femoralis mungkin terpalpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun,  mecerminkan efek dari vasokontriksi dan kongesti vena.

3.      Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler
Rasional: Adanya pucat dan dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler lambat mungkin berkaitan dengan vasokontriksi atau mencerminkan penurunan curah jantung.
4.      Catat udema umum
Rasional: Dapat mengidentifikasikan gagal jantung, kerusakan ginjal, atau vaskular
5.      Tekankan pembatasan aktifitas seperti  istirahat di tempat tidur/kursi
Rasional: Menurunkan stres dan ketegangan yang mempengaruhi tekanan darah dan penyakit hipertensi
6.      Anjurkan tidakan-tindakan yang nyaman, seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
Rasional: Mengurangi ketidaknyamanan dan dapat menurunkan rangsang simpatis.
7.      Kolaborasi pemberian obat-obatan sesuai yang di indikasikan
Rasional: Untuk menurunkan TD pada klien

2.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan vaskular serebral
Data subjektif: Klien mengeluh nyeri kepala dan nyeri di belakang leher
Data objektif : - klien terlihat segan untuk menggerakan kepala
-    Bangun dari duduk tampak berhati-hati
-    Mengkerutkan kening
Tujuan umum: Nyeri hilang atau bekurang setelah dilakukan tindakan keperawatan
Tujuan khusus:     Klien mengungkapkan tidak ada sakit kepala

Intervensi
1.      Petahankan tirah baring selama fase akut
Rasional: Meminimalkan stimulasi/meningkatkan relaksasi
2.      Anjurkan tidakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat leher, posisi nyaman.
Rasional: Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral
3.      hilangkan/minimalkan vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, nisalnya: Mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.
Rasional: Aktifitas yang meningkatkan vasokontriksi menyebabkan sakit kepala pada adanya peningkatan tekanan vaskuler serebral
4.      anjurkan pada keluarga untuk membantu klien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
rasional: Pusing dan penglihatan kabur sering berhubungan dengan sakit kepala klien juga dapat mengalami episode hipotensi postural
5.      anjurkan pada orang terdekat untuk pemberian cairan dan makanan lunak.
Rasional: Meningkatkan kenyamanan umum
6.      kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi: Analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium).
Rasional: Menurunkan nyeri dan mengurangi tegangan dan ketidaknyamanan yang di perberat oleh stress.

3.      Intoleransi berhubungan dengan penurunan cardiac output
Data subjektif: Klien mengaku cepat merasa lelah dan sesak nafas saat melakukan aktifitas
Data objektif: Nadi dan pernapasan meningkat saat klien beraktifitas
Tujuan umum: Tidak terjadi intoleransi aktifitas setelah dilakukan tindakan  keperawatan
Tujuan khusus:  Menurunkan gejala - gejala intoleransi aktifitas

Intervensi
1.      Berikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi
Rasional: Kemajuan aktifitas bertahap mencegah peningkatan kerja jantung tiba - tiba.
2.      Anjurkan keluarga untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan
Rasional: Memberikan bantuan hanya sebatas kebutuhan akan mendorong  kemandirian dalam melakukan aktifitas.
3.      Instruksikan klien tentang penghematan energi misalnya: duduk saat sikat gigi, mandi menggunakan kursi.
Rasional: Teknik menghemat energi mengurangi penggunaan energi
4.      Kaji respon klien terhadap aktifitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20x/mnt di atas frekuensi istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktifitas, dispnea, kelemahan dan pusing.
Rasional: Menyebutkan parameter membantu dalam mengkaji respon fisiologi terhadap stress aktifitas. Bila ada, merupakan indicator dari kelebihan kerja yang berkaitan dengan tingkat aktifitas.

4.      Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik
Data subjektif: Klien mengatakan gatal -gatal pada tubuh bagian perut
Data objektif:  -Kulit tampak bersisik
- Adanya lesi dan alergi pada perut bagian kanan
Tujuan umum: Perawatan diri klien terpenuhi setelah di lakukan tindakan keperawatan
Tujuan khusus: Mampu melakukan aktifitas perawatan diri sesuai kemampuan

Intervensi
1.      Kaji kemampuan klien untuk melukukan kebutuhan perawatan diri
Rasional: Untuk mengetahui seberapa jauh klien akan memerlukan bantuan orang lain dalam kebutuhan perawatan diri
2.      Beri klien waktu untuk mengerjakan aktifitas
Rasional: Melatih kemampuan mandiri klien
3.      Anjurkan orang terdekat untuk membantu memenuhi kebutuhan perawatan diri
Rasioanal: Membantu memaksimalkan kebutuhan perawatan diri klien
4.      Beri umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang sudah di lakukan klien atas keberhasilannya
Rasional: Sebagai motifasi untuk diri klien

5.      Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit
Data subjektif: Klien mengatakan tidak mengerti tentang penyakitnya
Data objektif: -klien bertanya dan meminta informasi tentang penyakitnya
-perilaku tidak tepat
-bekerja berlebihan
-pola makan tidak sesuai
Tujuan umum: Klien terpenuhi dalam informasi tentang hipertensi setelah di lakukan tindakan keperawatan
Tujuan khusus: Klien mampu mengungkapkan pengetahuan akan hipertensi





Intervensi        
1.      Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk keluarga
Rasional: Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan sejahtera yang sudah lama di nikmati mempengaruhi minat klien/keluarga untuk mempelajai penyakit
2.      Tetapkan dan nyatakan batas TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, dan otak.
Rasional: Memberikan dasar pemahaman tentang peningkatan TD, pemahaman bahwa TD tinggi dapat terjadi tanpa gejala
3.      Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah “terkontrol” saat menggambarkan TD klien dalam batas yang diinginkan
Rasional: Pengobatan untuk hipetensi adalah sepanjang kehidupan maka dengan penyampaian ide “terkontrol” akan membantu klien untuk melanjutkan pengobatan.
4.      Instruksikan klien tentang peningkatan masukan makanan/cairan tinggi kalsium, misalnya: jeruk, pisang, tomat, kentang, kismis, kurma, sari buah jeruk dan minuman yang mengandung tinggi kalsium 200-400 mg/hari dapat menurunkan TD sistolik dan diastolic
Rasional: Diuretik dapat menurunkan kadar kalium, penggantian diet lebih baik dari pada obat, konsumsi kalsium 200-400 mg/hari dapat menurunkan TD sistolik dan diastolic
5.      Bantu klien mengidentifikasi sumber masukan cairan misalnya: garam, daging, keju, saus, soda kue, baking powder
Rasional: Diit rendah garam selama dua tahun mungkin sudah mencukupi untuk mengontrol hipertensi sedang atau mengurangi jumlah obat yang di butuhkan
6.      Dorong klien untuk menurunkan atau menghilangkan keffein misalnya: kopi, cola, coklat
Rasional: Kaffein adalah stimulant jantung dan dapat memberikan efek merugikan pada jantung

D.    PELAKSANAAN
Diagnosa 1
Tanggal: 21/08/2009
Jam: 09.45  
1.      Memantau TD, ukur pada ke dua tangan, gunakan manset dan teknik yang tepat.
2.      Mencatat keberadaan, kualitas denyutan dan perifer
3.      Mengamati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler
4.      Mencatat udema umum
5.      Menekankan pembatasan aktifitas seperti  istirahat di tempat tidur/kursi
6.      Menganjurkan tidakan-tindakan yang nyaman, seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
7.      Berkolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai yang di indikasikan

Diagnosa II
Tanggal: 21/08/2009
Jam: 10.00
1.      Mempertahankan tirah baring selama fase akut
2.      Menganjurkan tidakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya: kompres dingin pada dahi, pijat leher, posisi nyaman.
3.      Menghilangkan/minimalkan vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, nisalnya: mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.
4.      Menganjurkan pada keluarga untuk membantu klien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
5.      Menganjurkan pada orang terdekat untuk pemberian cairan dan makanan lunak.
6.      Berkolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi: analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium).




Diagnosa III
Tanggal: 22/08/2009
Jam: 10.15
1.   Memberikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi
2.   Menganjurkan keluarga untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan
3.   Menginstruksikan klien tentang penghematan energi misalnya: duduk saat sikat gigi, mandi menggunakan kursi.
4.   Mengkaji respon klien terhadap aktifitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20x/mnt di atas frekuensi istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktifitas, dispnea, kelemahan dan pusing.

Diagnosa IV
Tanggal: 22/08/2009
Jam: 10.30
1.   Mengkaji kemampuan klien untuk melukukan kebutuhan perawatan diri
2.   Memberikan klien waktu untuk mengerjakan aktifitas
3.   Menganjurkan orang terdekat untuk membantu memenuhi kebutuhan perawatan diri
4.   Memberikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang sudah di lakukan klien atas keberhasilannya

Diagnose V
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 13.00
1.   Mengkaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk keluarga
2.   Menetapkan dan menyatakan batas TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, dan otak.
3.   Tidak mengatakan TD “normal” dan menggunakan istilah “terkontrol” saat menggambarkan TD klien dalam batas yang diinginkan
4.   Menginstruksikan klien tentang peningkatan masukan makanan/cairan tinggi kalsium, misalnya: jeruk, pisang, tomat, kentang, kismis, kurma, sari buah jeruk dan minuman yang mengandung tinggi kalsium 200-400 mg/hari dapat menurunkan TD sistolik dan diastolik
5.   Membantu klien mengidentifikasi sumber masukan cairan misalnya: garam, daging, keju, saus, soda kue, baking powder
6.   Mendorong klien untuk menurunkan atau menghilangkan keffein misalnya: kopi, cola, coklat

E.     EVALUASI
Diagnosa I
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 11.10
S:   Klien mengatakan lebih baik
O:  TD 140/90 mmhg
  N 80x/mnt
A: Masalah tertasi
P:  Tidak ada

Diagnosa II
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 11.40
S:  Klien mengatakan nyeri kepala dan nyeri di belakang leher sudah hilang
O: -klien tampak lebih baik
-tekanan darah menurun 130/90 mmhg
A: Masalah teratasi
P:  Tidak ada




Diagnosa III
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 12.00
S:  Klien mengatakan dapat melakukan aktifitas
O: Klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
A: Masalah teratasi
P:  Tidak ada

Diagnosa IV
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 12.15
S:  Klien mengatakan sudah mampu untuk merawat diri
O: -klien tampak lebih bersih
-alergi dan lesi dibagian perut kanan atas nampak mongering
A: Masalah teratasi
P:  Tidak ada






Diagnosa V
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 12.30
S:  Klien mengatakan mengerti tentang penyakit yang di derita
O: -menyatakn pemahaman tentang proses penyakit
-dapat mengulangi secara verbal apa yang telah disampaikan perawat
A: Masalah teratasi
P:  Tidak ada










CATATAN PERKEMBANGAN
Tanggal dan waktu
diagnosa
implementasi
evaluasi
Tanggal:
21/08/209
Jam: 09.45
1
1.   Memantau TD, ukur pada ke dua tangan, gunakan manset dan teknik yang tepat.
2.   Mencatat keberadaan, kualitas denyutan dan perifer
3.   Mengamati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler
4.   Mencatat udema umum
5.   Menekankan pembatasan aktifitas seperti  istirahat di tempat tidur/kursi
6.   Menganjurkan tidakan-tindakan yang nyaman, seperti pijatan punggung dan leher, meninggikan kepala tempat tidur.
7.   Berkolaborasi untuk pemberian obat-obatan sesuai yang di indikasikan

Diagnosa I
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 11.10
S:  klien mengatakan lebih baik
O: TD 140/90 mmhg
      N 80x/mnt
A: masalah tertasi
P: tidak ada

Tanggal:
21/08/2009
Jam: 10.00
II
1.  Mempertahankan tirah baring selama fase akut
2.  Menganjurkan tidakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala, misalnya kompres dingin pada dahi, pijat leher, posisi nyaman.
3.  Menghilangkan/minimalkan vasokontriksi yang dapat meningkatkan sakit kepala, nisalnya: mengejan saat BAB, batuk panjang, membungkuk.

4.  Menganjurkan pada keluarga untuk membantu klien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
5.  Menganjurkan pada orang terdekat untuk pemberian cairan dan makanan lunak.

6.  Berkolaborasi untuk pemberian obat sesuai indikasi: analgesik, antiansietas (lorazepam, ativan, diazepam, valium).


Diagnosa II
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 11.40
S: klien mengatakan nyeri kepala dan nyeri di belakang leher sudah hilang
O: -klien tampak lebih baik
-tekanan darah menurun 130/90 mmhg

A: masalah teratasi
P:  tidak ada

Tanggal:
22/08/2009
Jam: 12.00
III
1.Memberikan dorongan untuk melakukan aktifitas/perawatan diri bertahap jika dapat ditoleransi
2.Menganjurkan keluarga untuk memberikan bantuan sesuai kebutuhan
3.Menginstruksikan klien tentang penghematan energi misalnya: duduk saat sikat gigi, mandi menggunakan kursi.
4.  Mengkaji respon klien terhadap aktifitas, perhatikan frekuensi nadi lebih dari 20x/mnt di atas frekuensi istirahat, peningkatan TD yang nyata selama/sesudah aktifitas, dispnea, kelemahan dan pusing.

Diagnosa III
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 12.00
S: klien mengatakan dapat melakukan aktifitas
O:klien dapat memenuhi kebutuhannya sendiri
A: masalah teratasi
P: tidak ada

Tanggal:
22/08/2009
Jam:12.30
IV
1.  Mengkaji kemampuan klien untuk melukukan kebutuhan perawatan diri
2.  Memberikan klien waktu untuk mengerjakan aktifitas
3.  Menganjurkan orang terdekat untuk membantu memenuhi kebutuhan perawatan diri
4.  Memberikan umpan balik yang positif untuk setiap usaha yang sudah di lakukan klien atas keberhasilannya
Diagnosa IV
Tanggal:23/08/2009
Jam: 12.15
S: klien mengatakan sudah mampu untuk merawat diri
O:-klien tampak   lebih bersih
-alergi dan lesi dibagian perut kanan atas nampak mongering
A: masalah teratasi
P:  tidak ada
Tanggal:
23/08/2009
Jam: 12.30
V
1.      Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk keluarga
2.   Tetapkan dan nyatakan batas TD normal, jelaskan tentang hipertensi dan efeknya pada jantung, pembuluh darah, dan otak.
3.    Hindari mengatakan TD “normal” dan gunakan istilah “terkontrol” saat menggambarkan TD klien dalam batas yang diinginkan
4.   Instruksikan klien tentang peningkatan masukan makanan/cairan tinggi kalsium, misalnya: jeruk, pisang, tomat, kentang, kismis, kurma, sari buah jeruk dan minuman yang mengandung tinggi kalsium 200-400 mg/hari dapat menurunkan TD sistolik dan diastolik
5.   Bantu klien mengidentifikasi sumber masukan cairan misalnya: garam, daging, keju, saus, soda kue, baking powder
6.   Dorong klien untuk menurunkan atau menghilangkan keffein misalnya: kopi, cola, coklat
Diagnosa V
Tanggal: 23/08/2009
Jam: 12.30
S: klien mengatakan mengerti tentang penyakit yang di derita
O:-menyatakn pemahaman tentang proses penyakit
    -dapat mengulangi secara verbal apa yang telah disampaikan perawat
A: masalah teratasi
P: tidak ada






BAB IV
PEMBAHASAN

     Dalam bab ini penulis akan menguraikan tentang kesenjangan antara teori dan praktek yang di temui dalam proses keperawatan.
Adapun hal - hal yang akan di bahas adalah: pengkajian, diagnosa, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

1.    Pengkajian
      Teori mengatakan bahwa hipertensi adalah kenaikan  tekanan darah di mana tekanan sistolik di atas 140 mmhg dan tekanan diastole di atas 90 mmhg . pasien yang mengalami hipertensi menunjukan gejala seperti: sakit kepala,pusing, lemas, sesak nafas, gelisah, mual muntah, epistaksis dan kesadaran menurun.
     Dalam pengkajian Tn.w di dapat pengkajian sebagai berikut: Tn.w mengeluh sakit kepala dan nyeri dibelakang leher, Tn.W mengatakan susah tidur dan gelisah, sesak nafas dalam melakukan aktifitas. Tn.W mengalami hipertensi sejak 2 tahun yang lalu dalam keluarga saudara Tn.W juga mengalami hipertensi dan meninggal. Kesehariannya Tn.W masih bekerja sebagai seorang petani, Tn.W tidak pernah berolahraga, Tn.W juga tidak membatasi makanan dari daging dan makanan yang dapat meningkatkan tekanan darah karena Tn.W tidak tahu makanan apa saja yang baik dan tidak baik untuk boleh di konsumsi.
Dalam melakukan pengkajian penulis tidak menemukan hambatan, Tn.W bersedia menerima penulis dan secara terbuka memberikan keterangan-keterangan yang di perlukan.

2.      Diagnosa keperawatan
     Berdasarkan literatur yang ada, terdapat 8 diagnosa keperawatan. Adapun kedelapan diagnosa tersebut  adalah sebagai berikut :
1.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikuler
2.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskuler serebral
3.      Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah
4.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output
5.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri
6.      Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik
7.      Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang di derita pasien
8.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit
       Sedangkan dari tinjauan kasus, asuhan keperawatan pada pasien Tn.W  dapat   5 diagnosa sebagai berikut:
1.      Penurunan curah jantung berhubungan dengan peningkatan afterload, vasokontriksi, iskemia miokard, hipertropi ventrikuler
2.      Nyeri berhubungan dengan peningkatan tekanan vaskular serebral
3.      Intoleransi aktifitas berhubungan dengan penurunan cardiac output
4.      Kurangnya perawatan diri berhubungan dengan adanya kelemahan fisik
5.      Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit
            Dengan demikian dari diagnose keperawatan kasus ditemukan 5 diagnosa keperawatan  sedangka 3 diagnosa yaitu :
1.      Resiko perubahan perfusi jaringan: serebral, ginjal, jantung berhubungan dengan adanya tahanan pembuluh darah;
2.      Gangguan pola tidur berhubungan dengan nyeri; dan
3.      Kecemasan berhubungan dengan krisis situasional sekunder adanya hipertensi yang di derita pasien
Tidak ditemukan karena tidak ada data yang mendukung adanya diagnosa keperawatan tersebut.

3.     Intervensi
     Rencana asuhan keperawatan adalah petunjuk tertulis yang menggambarkan secara tepat mengenai rencana tindakan yang akan di lakukan tehadap pasien sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan diagnosa yang ada.
     Perencanaan pada kasus Tn.W di buat sesuai dengan teori yang ada. Adapun jenis tindakan yang direncanakan tehadap Tn.W meliputi: penyuluhan kesehatan, memelihara dan meningkatkan kesehatan Tn.W serta lebih menekankan pada perubahan Tn.W  dari perilaku yang dapat memperbarat penyakit yang dideritanya.

4.     Inplementasi
     Inplementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah di susun pada tahap perencanaan.
Dari diagnosa 1-5 implementasi dapat dilakukan sesuai dengan intervensi yang ada.

5.    Evaluasi
     Menurut teori tahap penilaian atau evaluasi adalah mengukur keberhasilan dari rencana dan pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan dalam memenuhi kebutuhan pasien.
Dari diagnosa 1-5 setelah di evaluasi masalah dapat teratasi.




BAB V
PENUTUP


      Setelah penulis melakukan asuhan keperawatan pada Tn.W dengan masalah hipertensi di Desa dondomon, dari tanggal 19-23 agustus 2009, penulis akan memberikan kesimpulan dan saran.

A.  KESIMPULAN
      Masalah hipertensi pada lansia merupakan salah satu masalah kesehatan yang serius karena jika tidak ada penanganan dari petugas kesehatan, dapat meningkatkan junlah lansia dengan hipertensi.
Hipertensi merupakan penyebab utama gagal ginjal dan stroke.
Dari hasil pengkajian ternyata di temukan beberapa masalah keperawatan pada Tn.w yang memerlukan penaganan dari petugas kesehatan.
Masih adanya kesenjangan antara teori dan praktek . yaitu pada teori terdapat 8 diagnosa tapi pada teori di temukan 5 diagnosa keperawatan.
Faktor penunjang dalam melaksanakan asuhan keperawatan ini adalah adanya kerja sama yang baik antara pasien, keluarga dan puskesmas  serta tersedianya literatur atau landasan teori yang berhubungan dengan hipertensi.

B.  SARAN
1.  Untuk keluarga, selalu memperhatikan masalah – masalah kesehatan yang timbul terutama pada Tn.w bantu pemenuhan kebutuhan pasien
2.  Untuk pasien, hindari gaya hidup yang dapat memperburuk masalah hipertensi, seperti:  tidak bekerja berlebihan, olah raga, dan menu makanan sesuai dengan kebutuhan diit hipertensi.
3.  Untuk pihak puskesmas, supaya lebih memperhatikan lansia yang mempunyai masalah kesehatan dan memberikan motivasi pada pasien
4.  untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada di wilayah setempat.











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar